SMP IT Amal Insani Jepara

Home » tausiyah » Isra’ Mi’raj dan Solusi Langit!

Isra’ Mi’raj dan Solusi Langit!

Selamat Datang Di Blog SMP IT Amal Insani

Sekolah menengah Pertama Islam Terpadu (SMP IT) Amal Insani Jepara Bapangan RT 02 RW 01 Kec.Jepara Kab. Jepara Email : smpitamalinsani@gmail.com

Recent Comments

Bahasa Angsa «… on Bahasa Angsa

RSS http://www.kompas.com/getrss/sains

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Isra’ Mi’raj merupakan salah satu terminal paling penting dalam sirah Nabiyullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan bahkan dalam perjalanan dakwah Islam sepanjang masa seluruhnya. Karena tak berselang lama ba’da peristiwa Isra’ Mi’raj itulah terbentang lebar jalan kemenangan dakwah Islam, dengan terjadinya bai’atul aqabah I dan II dengan para pioner Islam dari generasi pertama sahabat Anshar, yang akhirnya berbuah hijrah Islam secara total dan menyeluruh dari Mekkah ke Madinah.

Peristiwa fenomenal dalam sejarah dakwah Baginda Sayyidina Rasulillah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam itu, biasa di-hari raya-kan dan diperingati oleh kaum muslimin pada setiap tanggal 27 Rajab. Padahal yang terpenting bahkan yang penting dari Isra’ Mi’raj dan dari setiap momen sirah yang lain, bukanlah peng-hari raya-an dan peringatannya. Melainkan bagaimana dan apa yang harus serta bisa kita ambil darinya, berupa ibrah, hikmah, pelajaran, makna, pesan, misi dan semacamnya, bagi keimanan, keislaman, perjuangan dakwah, dan kehidupan kita secara umum.

Karena meskipun telah disepakati diantara seluruh ulama Islam sepanjang sejarah akan kebenaran dan kepastian kejadiannya, tapi di saat yang sama terdapat pebedaan dan perselisihan pendapat yang sangat lebar dan banyak terkait penentuan waktu Isra’ Mi’raj. Dan itu tidak hanya tentang hari atau tanggal dan bulannya, melainkan juga terkait dengan tahun terjadinya peristiwa dahsyat dan luar biasa tersebut. Memang semua telah berijma’ bahwa, Isra’ Mi’raj terjadi sebelum hijrah ke Madinah. Namun kapan tepatnya sebelum hijrah itu? Tidak ada yang bisa memastikannya di sini. Dan jarak perbedaan pandangan para ulama sangatlah luas sekali. Mulai dari pendapat bahwa, Isra’ Mi’raj dialami oleh Nabi tercinta Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada tahun pertama Beliau diangkat menjadi nabi dan rasul (pilihan Imam Ath-Thabari), sampai madzhab yang mengatakan bahwa ia terjadi satu tahun sebelum peristiwa hijrah, yakni pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 13 Kenabian. Selebihnya ada pendapat-pendapat lain yang mentarjih bahwa Isra’ Mi’raj terjadi pada tahun ke-5 Kenabian (tarjih Imam An-Nawawi dan Al-Qurthubi), atau pada tanggal 27 Rajab tahun 10 Kenabian (pilihan Al-Manshurfuri, ulama india), atau pada bulan Ramadhan tahun 12 Kenabian, atau pada Muharram tahun 13 Kenabian (lih. Ar-Rahiq Al-Makhtum, hal: 124), atau mungkin juga masih ada pendapat-pendapat lainnya lagi.

Dan karena tidak adanya dalil shahih (kuat) yang sharih (tegas), maka tidak bisa dipilih secara meyakinkan mana diantara pendapat-pendapat diatas yang paling kuat. Melainkan mungkin hanya bisa ditarjih secara umum dan global saja bahwa, Isra’ Mi’raj terjadi sebelum hijrah pada akhir tahun 10 Kenabian atau sesudahnya. Karena Ummul Mukminin Khadijah radhiyallahu ‘anha wafat pada bulan Ramadhan tahun 10 Kenabian, dan itu sebelum diwajibkannya shalat fardhu 5 waktu. Padahal tidak ada perselisihan bahwa, perintah pewajiban shalat fardhu tersebut adalah pada malam Isra’ dan Mi’raj!

Jadi sekali lagi, yang terpenting dan bahkan yang penting dari kejadian Isra’ Mi’raj bukanlah penentuan tanggal, hari, bulan dan tahunnya, juga bukan perayaan dan peringatannya. Melainkan yang penting dan terpenting adalah ibrah, hikmah, pelajaran, makna, pesan, misi, dan semacamnya, yang bisa dan harus kita ambil darinya, bagi keimanan, keislaman, perjuangan dakwah, dan juga kehidupan kita secara umum. Maka mari selalu fokus pada aspek-aspek ini saat menyikapi setiap penggal peristiwa penting dan momen istimewa dari sirah dan sejarah!

Isra’ Mi’raj terjadi pada saat beban tekanan perjuangan dakwah terhadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan juga para sahabat, telah benar-benar sampai dan mencapai puncaknya pada periode Mekkah. Khususnya denga gugurnya dua sosok terpenting dan terdekat bagi Baginda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam , yang sekaligus merupakan dua orang penyangga utama dakwah, yakni istri tercinta Beliau Ummul Mukminin Khadijah radhiyallahu ‘anha dan pamanda Beliau Abu Thalib. Sampai-sampai tahun 10 Kenabian disaat mana Khadijah radhiyallahu ‘anha dan Abu Thalib wafat secara hampir berbarengan, dikenal sebagai ‘amul huzn, yakni tahun kesedihan khususnya bagi Sang Rasul mulia Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan umumnya bagi Sahabat setia radhiyallahu ‘anhum.

Maka waktu dinaikkan ke langit tujuh dan Sidratil Muntaha itu, ibaratnya Nabi tercinta kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membawa akumulasi dan tumpukan seluruh beban persoalan hidup dan ujian perjuangan dakwah dari muka bumi. Dan begitu Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diturunkan kembali dari langit tertinggi ke bumi, langsung di malam berkah itu pula, dengan antara lain membawa syariah shalat fardhu lima waktu, semua beban masalah itupun lepaslah sudah. Jadi hikmahnya, Rasululullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di-Isra’ Mi’raj-kan, dengan kehendak agung Allah langsung bukan oleh keinginan dan rencara Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri, adalah untuk “dihibur” dan sekaligus diberi solusi tuntas atas beragam beban persoalan hidup dan problematika dakwah di bumi.

Oleh karena itu, saat ada masalah, persoalan dan problem apapun dalam hidup ini, janganlah pernah sekali-kali berfikir untuk mencari dan menemukan solusinya dari bumi pula. Melainkan adukanlah semua beban masalah, persoalan dan problem hidup itu kepada Dzat Yang diatas. Dan temukanlah solusi pada tatanan yang diturunkan dari langit. Sedangkan langkah mencari solusi masalah bumi dari bumi pula, tak akan pernah menyelesaikannya, melainkan justru hanya akan menambah banyak masalah dan semakin merunyamkannya. Soalnya, bumi ini memang dicipta, diadakan dan dikehendaki sebagai tempat masalah. Sedangkan solusi bagi semua, adanya justru di langit dan pada apa yang bersumber dari langit. Bahkan termasuk rezeki kitapun ada di langit. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Dan di langitlah terdapat rezekimu, dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu. Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang itu adalah benar seperti perkataan yang kamu ucapkan” (QS. Adz-Dzaariyat [51]: 22-23).

Sebagai oleh-oleh utama dari rihlah (perjalanan) bumi – langit yang penuh berkah, ibadah shalat juga ibarat Mi’raj bagi setiap mukmin untuk menuju, menghadap dan mengadu kepada Allah. Dan boleh jadi karena begitu istimewanya cara pensyariatan itulah, maka shalat memiliki kedudukan yang sangat istimewa pula diantara seluruh kewajiban fardhu Islam. Disamping penempatannya di posisi urutan kedua langsung setelah dua kalimat syahadat, diantara lima rukun Islam, shalat adalah merupakan rukun amal dan ibadah paling vital, sebagai parameter utama dan pertama ketaqwaan serta kesalehan setiap muslim, dan sekaligus di saat yang sama juga menjadi benteng terakhir pertahanan keislaman seseorang. Maka Allah-pun berfirman (yang artinya): “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai wasilah penolongmu (dalam segala kepentingan dan urusan). Sungguh shalat itu berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk (baik dalam shalat secara khsusus, maupun dalam hidup secara umum) (QS. Al-Baqarah [2]: 45).

Sementara itu Rasululullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda (yang artinya): “Kumandangkanlah iqamah wahai Bilal. Dan buatlah kita rehat dengan shalat” (HR. Abu Dawud dan lain-lain). Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda (yang artinya): “Dan dijadikanlah penyejuk hatiku di dalam shalat” (HR. An-Nasaa-i dan lain-lain). Nah, bila rehat-nya Rasululullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan juga ketenteraman serta kesejukan hati Beliau, adalah justru di dalam shalat, lalu perenungannya adalah, serehat apa, setenteram apa dan sesejuk apa hati kita saat bermunajat kepada Allah Ta’ala dalam setiap shalat kita?

Dan sebagai penutup perenungan Isra’ Mi’raj ini, penting diingatkan bahwa, derajat maqam tertinggi seorang hamba di sisi Allah, adalah maqam totalitas ‘ubudiyah (penghambaan diri kepada-Nya). Karenanya, saat di-Isra’ Mi’raj-kan untuk bertemu, menghadap dan berdalog langsung dengan Allah di langit ketujuh dan Sidratil Muntaha itu, Rasululullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam justru disebut dengan julukan ‘abdihi (hamba-Nya), dan tidak dengan julukan-julukan pemuliaan dan pengagungan lainnya. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Maha suci Dzat Yang telah memperjalankan HAMBA-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (QS.Al-Israa’ [17]: 1).

Tagged: Ahmad Mudzoffar Jufri

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

June 2013
M T W T F S S
« May    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

RSS Berita – Eramuslim

  • Yaqut Kumpulkan Ribuan Banser di Garut
    Eramuslim.com – Banser mengerahkan ribuan anggotanya di alun-alun Garut dalam rangka pelantikan yang dihadiri ketua Umum Ansor Yaqut Cholil Qaumas, Sabtu, (18/11). Saat melantik ribuan anggota Banser di Garur, Yaqut mengatakan, sayap kepemudaan NU komitmen dalam menjaga NKRI. “Melantik Pengurus Cabang dan ribuan kader Banser baru di Garut. Kecintaan kami pad […]
  • Pesan Erdogan Kepada Tentaranya: Rebut Hati Orang Qatar!
    Eramuslim.com -Selama kunjungan Presiden Recep Tayyip Erdogan ke sebuah pangkalan militer Turki di Qatar pada Rabu (15/11/2017), dia menghimbau kepada para pasukan untuk menaklukkan hati orang-orang Qatar. “Harapan kami kepada para pahlawan kami ini di Qatar; kalian harus menaklukkan hati orang-orang Qatar dengan cinta dan rasa hormat saat menjalankan tugas […]
  • Dakwah Ust. Felix Siauw di Belitung Dilarang Aparat
    Eramuslim.com -Ustadz Felix Siauw, seorang penceramah (dai) keturunan Tionghoa akhir-akhir ini diberitakan kerap mendapat penolakan di berbagai daerah untuk mengisi ceramah. Dua pekan lalu, Ustadz Felix mendapatkan penolakan dari GP Ansor di Bangil. Kali ini Ustadz Felix kembali ditolak di Belitung. Ustadz Felix menjelaskan bahwa semula dia akan mengsisi tau […]

RSS http://www.dakwatuna.com/category/tsaqafah-islamiyah/feed/

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

RSS http://muslim.or.id/feed

  • Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (7) November 18, 2017
    Saya berlindung kepada Allah dari sejenis kegilaan, kesombongan, dan sya’ir setan yang suka menggoda manusia untuk berbuat maksiat, dan yang dijauhkan dari rahmat Allah
    Sa'id Abu Ukkasyah
  • Sekilas Tentang Forum Kajian Islam Mahasiswa Yogyakarta November 17, 2017
    Forum Kajian Islam Mahasiswa adalah sebuah wadah bagi para mahasiswa di Yogyakarta untuk ikut berpartisipasi dalam mendakwahkah Islam yang sesuai dengan manhaj ahlussunnah. FKIM membantu memfasilitasi kegiatan dakwah para mahasiswa sehingga diharapkan tersebar dakwah Sunnah di kalangan mahasiswa seluruh Yogyakarta. Forum Kajian Islam Mahasiswa (FKIM) memilik […]
    Redaksi Muslim.Or.Id
  • Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (6) November 16, 2017
    Baca pembahasan sebelumnya Mutiara Isti’adazah dalam Shalat (5) Al-‘Aliim yaitu Yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu العَلِيم Yang Maha Mengetahui Al-‘Aliim adalah salah satu nama Allah yang maha indah (husna). Al-‘Aliim yaitu Yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, baik yang lahir maupun batin, yang nampak maupun tersembunyi, baik sesuatu yang ada pada masa […]
    Sa'id Abu Ukkasyah
%d bloggers like this: